Sapardi dengan Karyanya, Hujan Bulan Juni


Sapardi Djoko Damono, mendengar namanya saja dengan sekejap terlintas di ruang otak kanan dan kiriku, berpuluh-puluh karyanya yang fenomenal. Entah bernuansa sajak,  fiksi, essay, dan lain-lain.
Karya Sapardi sangat merekah dalam masyarakat. Kali ini, saya mengulik sebuah buku yang sudah tak awam lagi di masyarakat. Karyanya yang berjudul “Hujan Bulan Juni”. Buku ini merupakan antologi, sepilihan sajak yang SDD tulis dari tahun satu ke tahun berikutnya. Selain itu, karya ini memang sudah sangat fenomenal. Setelah Sapardi menerbitkan sepilihan sajak atau dalam sebuah antologi, Sapardi mengembangkan lagi dalam sebuah novel yang menggambarkan perjalanan kisah cinta Sarwono dan Pingkan, entah lika-likunya atau derai-derai kebahagiannya.
Setelah diterbitkan dalam bentuk novel, karya SDD ini dibuat dalam bentuk film pada tahun 2017 yang dibintangi oleh Adipati Dolken (Sarwono) dan Velove Vexia (Pingkan).
Sebelum kita menelaah lebih dalam tentang Antologi “Hujan Bulan Juni”, sedikit saya akan mengulik filmnya yang terbit pada tahun 2017 kemarin.
Penilaian saya terhadap film tersebut adalahh 6,9/10, terbilang sedang. Penggambaran karakter Sarwono dan Pingkan cukup, di sini Adipati memvisualisasikan dirinya menjadi Sarwono terlihat biasa saja, tidak ada nilai plus, pengucapan kata-kata yang berlogat Jawa hanya sebagian, sebagiannya lagi Adipati terlihat lebih nyaman menggunakan Bahasa Indonesia tanpa logat Jawa. Jika dilihat dari alur filmnya, dari awal hingga akhir, pendapat saya terbilang agak membosankan, perihal puisi-puisinya dapat menyelamatkan film ini, karena di film ini menyisipkan banyak puisi dalam buku puisi “Hujan Bulan Juni” yang mendapat nilai plus karena puisi SDD sudah pasti epik.
Mari kita berlanjut, seperti hidup yang harus tetap berlanjut!
Hujan Bulan Juni (1959-1994). Sepilihan Sajak. Karya Sapardi Djoko Damono.
Mulai dari mana ya? :D
Mengulik karya yang satu ini, seringkali membuatku tersenyum sendiri. Pemilihan gaya bahasanya tak jarang membuatku menganga karena bingung dengan keadaan apa SDD sehingga lahir karya yang sangat indah seperti sajak-sajak dalam buku ini?
Dalam rangkaian katanya, SDD menyimpan rangkaian makna  yang menjelma menjadi sudut pandang yang banyak atau multitafsir.
Ungkapan spiritual dan ikatan batin antara Sapardi dengan bait-bait yang dilahirkannya sangat serasi sehingga menampilkan banyak puisi yang padu.
Beberapa puisi menampilkan hubungan SDD dengan Tuhannya, beberapa puisi menampilkan tentang semesta yang manis seperti madu dan pahit seperti jamu, beberapa puisi menampilkan perjalanan kehidupan seperti diterjang ombak atau diterpa badai atau ditemani hujan atau bertamasya saat musim semi, beberapa puisi menampilkan tentang rasa: getir, sedih, senang, suka, duka, kesal, kecewa, dll.
Makna konotatif dalam buku ini begitu kental, beliau menulis ini tetapi maksdunya itu, beliau menulis itu tetapi maksudnya ini, benar seperti karya beliau yang lain berjudul “Bilang Begini Maksudnya Begitu”.
Berbicara mengenai multitafsir, kutemukan tak jarang bahasa atau rangkaian makna yang tersirat di antara belahan-belahan kata yang seringkali tak kumengerti. Penulis blogger awam dan amatir seperti diriku ini, masih harus terus belajar untuk menemui apa makna yang tersirat dalam rangkaian kata itu.
Daya bayang/imaji dalam buku ini dapat kita temui dalam novel “Hujan Bulan Juni” yang memvisualisasikan dengan perjalanan kisah cinta Sarwono dan Pingkan.
Berbicara unsur ekstrinsik, beberapa aspek juga termuat dalam buku ini: aspek historis (dalam karya ini disebutkan kisah Rama dan Sita dalam judul “Sita Sihir”), aspek spiritual (seperti “Gerimis Kecil di Jalan Jakarta, Malang”), aspek filsafat dan aspek psikologis juga berperan penting dalam mewarnai buku ini.
Sampailah di ujung essay sederhana di blog ini, pesanku untuk para pembaca setia: Terima Kasih! Pesanku untuk Pak Sapardi: Terima Kasih!
Dan aku juga ingin, aku hanya ingin mengopi dengan sederhana di antara gerimis-gerimis kecil/rintikan hujan yang jatuh pada bulan Juni!
Sekian, salam manis.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melek, yuk?

Perempuan dan Revolusi Industri 4.0